Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Skenario Allah Pasti yang Terbaik

Skenario Allah Pasti yang Terbaik
Suatu malam saya memacu kendaraan saya melewati jalanan yang lengang. Waktu sudah lewat jam 12 malam. Melintasi Pasar Ciputat, lokasi yang biasanya macet saat siang hari, mobil saya melaju nyaris tanpa hambatan.

Namun, pikiran saya dijejali banyak hal. Hati saya gelisah. Saya sedang menghadapi masalah yang cukup besar. Baru saja, sekitar tiga puluh menit yang lalu, saya dan tiga orang teman selesai rapat untuk membicarakan sebuah masalah yang tidak sederhana. Kami baru saja mengalami kerugian usaha yang tidak sedikit, ratusan juta jumlahnya.

Bergelut di dunia usaha, tentu itu bukan kegagalan pertama yang pernah saya alami. Ada banyak lainnya. Barangkali, puluhan jumlahnya. Dengan nilai kerugian yang berkali lipat dari yang sedang dihadapi saat ini. Tapi, tetap saja, setiap masalah berat akan membuat kita sakit kepala, kan?

***

Ketika sedang asyik menyetir, sambil bertanya-tanya mengapa masalah ini datang pada saya di waktu yang tidak tepat, smartphone saya menyala. Saya membaca sebuah nama di sana, salah satu karyawan saya, mengirim pesan via WA. “Mohon ampun, Pak.” Tulis pesan itu.

Wah ada apa? Pikir saya. Saya tahu karyawan saya ini tadi siang pamit pulang lebih dulu, ayahnya meninggal dunia. Tanpa berpikir panjang, karena penasaran, saya buru-buru membuka pesan itu.

Rupanya dia masih mengetik. Cukup lama saya tunggu, statusnya masih ‘typing’. Karena tak sabar, saya telepon saja. Di sanalah saya mendengar suaranya yang serak dan berat, sehabis menangis…

“Gimana?” Tembak saya.

“Mohon ampun, Pak.” Ia langsung mengulangi kata-kata tadi. Nadanya melandai.

“Mohon ampun kenapa?” Tanya saja.

“Mohon ampun saya merepotkan Bapak terus…. Tapi saya udah bingung. Saya nggak tahu harus ngehubungin siapa lagi. Saya mohon ampun sama Bapak. Saya mau minta tolong…”

Dengan perasaan masih gamang, saya buru-buru mengejar, “Apa yang bisa saya tolong?”

Tak lama, ia bercerita: Ia sedang kesulitan mengeluarkan jenazah mendiang ayahnya dari Rumah Sakit karena biaya berobatnya belum dilunasi. Belum lagi, Rumah Sakit tak bisa menyediakan ambulans gratis untuk mengantarkan jenazah ke rumahnya di daerah Bogor. Dan juga, Ia tak punya dana lagi untuk berbagai kebutuhan pemakaman.

***

Refleks, saya langsung bertanya, “Berapa jumlah yang harus dibayar?”

“Mohon ampun, Pak.” Ia mengulang kalimat itu sekali lagi, “Jumlahnya besar. Tapi saya nggak tahu harus gimana lagi… Saya sudah bingung. Nggak punya jalan lagi.” Kemudian ia menyebut sejumlah angka.

Mendengar angka yang disebutkan karyawan saya tadi, saya menghela nafas. Angka itu, buat saya, bukan masalah sama sekali. Saya sedang berhadapan dengan angka yang jauh lebih besar dari itu… Tapi momen itu benar-benar menyadarkan saya, bahwa orang lain bisa jadi menghadapi masalah yang lebih besar dari saya—yang membuatnya benar-benar bingung, di ujung hidup dan mati—meskipun masalah itu ketika disodorkan di hadapan saya mungkin bukan sesuatu yang besar bagi saya.

Biasanya, ketika menghadapi masalah besar, saya akan ‘mencari teman’ orang lain yang menghadapi masalah dengan skala yang lebih besar. Misalnya jika saya punya hutang ratusan juta, mungkin orang lain punya hutang miliaran, dan itu membuat saya lebih tenang. Namun, ternyata skala bukan tentang jumlah atau angka. Skala itu tentang level diri, tentang maqam, tentang dimensi, tentang hierarki realitas yang kita hidupi… Kecil jumlahnya menurut saya, mungkin besar skalanya menurut orang lain. Besar jumlahnya menurut saya, mungkin kecil skalanya untuk orang lain.

Setelah berusaha menyampaikan sejumlah kalimat untuk menenangkan karyawan saya tadi, saya memastikan bahwa masalah itu biar saya saja yang menyelesaikan. Mendengar semua itu, karyawan saya tadi menangis lagi—seraya tak berhenti meminta maaf dan berterima kasih. Tak lama sehabis telepon ditutup, saya segera membuka internet banking dan mengirimkan uang yang dibutuhkan.

***

Melanjutkan perjalanan, saya merenung lebih dalam. Saya mengembara ke inti diri. Saya melihat betapa luar biasa cara Allah mengajarkan sesuatu yang berharga kepada hambanya—jika kita mau berpikir.

Masalah berat yang saya hadapi bersama teman-teman, barangkali adalah cara Allah untuk mengingatkan kepada kami bahwa kami sedang ‘dipaksa’ naik level. Prosesnya tidak mudah, tentu saja. Kadang-kadang berat dan menegangkan, tetapi Allah ingin melihat bagaimana cara kami memandang persoalan itu, bagaimana cara menghadapinya, dan bagaimana cara menyelesaikannya.

Apa yang berat bagi kita hari ini, belum tentu berat bagi kita esok. Dan saat kita diberi masalah besar sebenarnya kita sedang diminta untuk memantaskan diri menjadi individu yang layak melangkahi masalah itu—menjadi lebih besar dari masalah itu. Di sana, kita diminta untuk banyak beristighfar, mawas diri, ikhlas, pasrah dan sabar. Percayalah Allah sedang menyiapkan sebuah skenario terbaik untuk hidup kita.

Ketika membaca tulisan ini, barangkali ada di antara Anda yang sedang menghadapi masalah yang sangat berat—mungkin jauh lebih berat dari masalah saya dan teman-teman. Mungkin masalah Anda mengancam hidup Anda, memojokkan Anda pada situasi yang membuat Anda tak punya pilihan lain, membukakan masalah yang lebih besar pada pasangan Anda, anak-anak, bahkan keluarga. Tak jarang pula, orang mendapatkan masalah berlapis-lapis… Misalnya, sudah terlilit hutang, diancam orang, hubungan rumah tangga juga di ujung tanduk.

Pasti ada di antara kita yang sedang punya rencana tetapi gagal, yang punya impian tetapi rasanya mustahil terwujud, yang punya masalah namun seolah tak terpecahkan, yang menghadapi beban yang begitu menghimpit, yang terkungkung di tengah tempurung keterbatasan. Jika semua itu sedang Anda hadapi… Yakinlah Anda tidak sendirian. Yakinlah bahwa semua itu adalah serangkaian kasih sayang Allah yang luar biasa yang dirancang semesta untuk meningkatkan keimanan Anda.

***

Pagi hari setelah peristiwa itu, sekitar pukul 07.00 saya membuka smartphone saya lagi. Karyawan saya tadi kembali mengirim pesan, “Alhamdulillah, Pak, terima kasih karena telah menjadi jalan untuk mempermudah jenazah ayah saya dikebumikan,” tulisanya.

Saya tak tahu harus menjawab apa dari pesan itu. Namun, di bawah tulisan tadi ada dua foto yang kemudian saya buka. Dua foto prosesi pemakaman ayah karyawan saya dan pusara setelah jenazah dikebumikan.

Tangan saya mendadak bergetar, dada saya bergemuruh, lisan seketika beristighfar. Betapa sayang sebenarnya Allah kepada saya. Betapa agung cintaNya. Betapa luas Rahman dan Rahim-Nya. Betapa terbentang lautan ampunan-Nya.

Saya masih diberi kemampuan untuk membantu orang lain. Saya masih diberi kesempatan untuk terus melanjutkan kisah saya, sebuah kisah luar biasa yang tak ada seorang pun di dunia ini yang sanggup menggantikan peran saya: Hidup saya sendiri. Masalah besar yang saya hadapi, ternyata tak seujung kuku dari anugerah yang telah Allah beri.

Teruslah bergerak, teruslah berlari meski safa-marwa hidup ini membuatmu sedih dan gelisah… Yakinlah air zamzam akan mengalir, tak habis-habis, meski kita tak pernah tahu di mana ia akan muncul, di kaki suci siapa ia terberkati…

Skenario Allah pasti yang terbaik.

FAHD PAHDEPIE


*sumber: https://www.facebook.com/fahdpahdepie/posts/10155095635401437