Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Jalan Kehidupan

jalan kehidupan - majalah hadila solopeduli oktober 2017
Suatu hari Nenek Rina dan Nenek Rini pergi ke hutan mencari kayu bakar. Di dalam hutan, mereka menemukan 2 butir telur. Tidak tahu telur apa. Karena Penasaran, mereka sepakat membawa pulang telur-telur itu dan masing-masing menyimpan satu telur untuk ditetaskan. 

Di rumah Nenek Rina, telur dieramkan bersama dengan telur-telur ayam hingga menetas. Saat telur ayam menetas, telur yang ditemukan di hutan itu pun menetas menjadi makhluk yang mirip ayam. Namun, seiring begalannya waktu,“ayam' tersebut kian tampak aneh. Badannya tumbuh jauh lebih besar dari ayam yang lainnya. Paruhnya lebih tajam, kakinya lebih besar, dan matanya terlihat lebih berkilau. Ia juga tidak bisa berkokok. 

Di rumah Nenek Rani,“:ayam' tetasan telur dari hutan juga tampak aneh. “Ayam” ini merasa asing berada di lingkungan para ayam. la merasa aneh dengan kebiasaan ayam-ayam yang mengais tanah untuk mencari makan. Ia juga senang dengan paruhnya yang tajam, matanya yang lebih jeli melihat, bulu-bulu sayapnya yang lebih indah, juga kakinya yang lebih kokoh. 

Setiap hari ia melihat ke arah langit. Ia senang memandangi burung yang terbang tinggi, berputar di angkasa, sesekali menukik ke bawah dan terbang lagi dengan kecepatan tinggi, melesat laksana kilat. Sayap-sayapnya mengembang, kokoh, dan perkasa

Ia lalu bertekad belajar terbang. Mulai dari memanjat batu, pohon, hingga atap rumah. Sampai suatu hari, ia benar-benar meninggalkan rumah itu. Ia terbang, melesat, dan tidak pernah kembali. 

Berbeda dengan nasib 'ayam' aneh di rumah Nenek Rina. Karena badannya yang besar dan tampak lebih sehat, saat hari raya Nenek Rina memilih 'ayam” aneh itu untuk dipotong dan dijadikan hidangan, ayam bakar istimewa. 

Kita semua diciptakan Tuhan dari asal yang sama, tetapi mengapa ada yang sukses dan ada yang biasa-biasa saja? Ada yang menjelma menjadi orang besar, para pahlawan, tetapi ada yang menjadi orang biasa. Bahkan nahas, menjadi pecundang. 

Semua tergantung bagaimana kita memilih sikap dalam kehidupan. Jika kita hanya diam, menunggu, atau bermanja-manja, maka keberhasilan mungkin akan menjadi angan-angan semata. Namun jika kita belajar, bekerja, dan berusaha, saya yakin tidak ada yang mustahil atas semua cita-cita kita. Jadi, kalau terlintas dalam benak Anda untuk sedikit bermanja-manja, jawab saja, no way! <> ' 

*sumber: Rubrik Motivasi Majalah Hadila Edisi 125 November 2017