Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kebahagiannya adalah Keajaiban

Namanya singkat: Sifa. Kebahagian di masa kecilnya pun singkat. Sangat singkat, bahkan. Belum lagi beranjak balita, ia lumpuh. Diduga, itu akibat polio, ditambah kekurangan gizi amat parah.

Selama bertahun-tahun ia hanya terbaring, di rawat sang kakek, Totong Juhana. Tubuh anak yatim piatu itu--kedua orangtuanya meninggal ketika ia bayi--kering-kerontang, tinggal tulang berbalut kulit.  

Sifa tinggal bersama sang kakek di gubuk sederhana, di Dusun Karang Bawang, Desa Cinta Karya, Kecamatan Parigi, Pangandaran, Jawa Barat. Dia merupakan satu-satunya cucu Totong.  

Menurut Totong, 83 tahun, Sifa pernah dirawat di puskesmas setempat. Namun kondisinya tak pernah membaik, dan bahkan terus menurun, sampai akhirnya ia tak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali. Sungguh menyedihkan. Di era kemerdekaan yang telah berlangsung tujuh dekade, masih ada saja penderita gizi buruk begitu rupa. 


Totong merasa iba. ''Saya sangat sayang Sifa,'' kata Totong, sambil menitikkan air mata, memandangi sang cucu yang tergolek tak berdaya. Setiap hari Totong merawatnya dengan telaten, memandikan, mengganti pakaian, serta menyuapi makanan. 

Untungnya, Sifa tak pernah rewel. Mujur pula, soal ekonomi Totong banyak dibantu warga yang merasa kasihan melihat nasib Sifa. Perawat dari puskesmas selalu datang memeriksa kesehatan Sifa, gratis.  

Seiring dengan berjalannya waktu, Totong Juhana kian cemas akan nasib cucunya tersebut. Maklum, ia merasa semakin tua. ''Jika saya sudah tidak ada, siapa yang akan mengurus Sifa?'' ujarnya, sendu.  

 
Selama ini, di samping menyiapkan tabungan tak seberapa, Totong selalu berdoa. Ia memohon untuk diberi umur panjang dan kekuatan fisik agar bisa terus mengurus cucu kesayangannya itu. Ia juga selalu mendoakan sang cucu supaya sembuh, atau paling tidak, kelak ada orang baik hati yang menggantikannya merawat Sifa. ''Kebahagiaanku adalah keajaiban,'' kata Totong (Sumber : Majalah GATRA, No 17 Tahun XXII)