Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Kisah Miris Sang Pejuang Yang Fotonya Dijadikan Bahan Lelucon di Internet

Pak Anwar di masa muda merupakan tentara Sumatera Selatan yang menjabat sebagai komandan kompi. Derita tak terkira dia jalani selama menjadi pejuang melawan penjajahan Belanda, namun setelah Indonesia merdeka, deritanya tak kunjung usai. Seperti yang dikisahkan pada maharadjo.wordpress.com, sang pejuang harus menyambung hidup dengan jalan mengemis di seputaran Kota Padang.

Kisah Pak anwar sebenarnya telah dimuat dalam media POSMETRO tahun 2008. Pak Anwar yang pernah merasakan kekejaman dalam penjara Belanda selama 4 tahun, bahkan harus meminum air yang dicampuri air kencing. Namun di usia senjanya Pak Anwar yang berpakaian lusuh seadanya harus berkeliling menadahkan tangan untuk berharap belas kasihan siapa saja.
Padahal tak kurang pengorbanannya untuk negeri ini, kakinya bahkan pernah ditembus peluru hingga harus terpincang-pincang berjalan. Nasionalisme dan kecintaannya pada negara pun tak dipertanyakan lagi.

“Saya pernah ditanya tentara Belanda. Apakah saya berjuang dan jadi tentara karena hanya kedudukan dan jabatan semata? Saya jawab apa adanya? Berjuang untuk negara, bukan kedudukan. Bila kelak mati di sini. Saya bangga, karena itu demi negara,” ungkap sang bapak kala itu.

Kisah sang pejuang begitu menyayat hati. Bapak yang hidup sebatang kara karena istri dan anaknya yang masih dalam kandungan meninggal kekurangan gizi ini tak hanya memiliki masa tua yang miris, beberapa waktu lalu sempat ada ulah iseng seorang pengguna internet mengunggah fotonya dalam bentuk 'meme' yang membuat sang pejuang menjadi lelucon. Sungguh perbuatan yang sangat tidak pantas dilakukan. Padahal Sang Pejuang telah menghembuskan nafasnya tahun 2011 lalu, tanpa banyak yang peduli.

Meme lelucon sang pejuang

Setelah menjadi lelucon dalam meme tersebut, mata publik seakan baru terbuka. Semua orang menghujat si pembuat 'meme' tersebut, Pak Anwar yang telah tiada pun banyak mendapatkan simpati. Banyak yang datang mencarinya dan menelusuri jejaknya. Sang Pejuang pun akhirnya dianggap pahlawan. Padahal di masa hidupnya dulu ia lalui nyaris tanpa penghormatan. Menurut blog yang sama, beliau memang pernah menerima sertifikat veteran, namun kehidupannya yang tak menentu membuat benda itu hilang bersama fasilitas yang menyertainya.
Pak Anwar yang terlupakan mungkin hanya salah satu dari banyak pejuang berjasa lainnya yang tak mendapatkan penghargaan yang pantas. Semoga kisah pejuang yang berakhir menjadi pengemis ini membuka mata semua pihak untuk lebih menghormati jasa pahlawannya, bukan hanya di atas kertas dan kata-kata saja. Dan untuk almarhum Pak Anwar, semoga diberi tempat yang layak di sisiNya.