Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pulang ke Kampung Halaman Jika Tak Lagi Kuat Bekerja

Sudah 25 tahun ini Wagiyem,60, hidup boro di Kota Bengawan, julukan Solo. Sepeninggal suaminya sekitar tiga tahun lalu Wagiyem hidup sendirian di sebuah kos sederhana di Tunggulsari, Pajang, Solo. Dia hidup terpisah dengan kedua anaknya, Nur Faiya, 45 dan Agus Budi Santoso, 35, yang masing-masing sekarang tinggal di Pekalongan dan Kudus. Kendati kedua anaknya berada jauh darinya, bukan berarti anaknya lupa dengan sang ibu.

Wagiyem mengatakan kadang kala anaknya menjenguknya dan memberi uang. “Saat Lebaran lalu anak-anak juga menjenguk saya. Mereka juga mengirimi saya uang yang sebagian saya gunakan untuk membayar sewa kos,” beber Wagiyem.

Wagiyem
Perempuan penjual bakwan di Pasar Kleco ini mengatakan anak-anaknya sebenarnya tidak tega membiarkannya hidup sebatang kara di Solo. Namun Wagiyem mengaku anak-anaknya sering mengatakan agar kembali ke kampung halamannya di Salam, Gemolong.

“Tapi saya yang terus menunda-nunda. Saya ingin mencari uang dahulu di sini, jika sudah tidak kuat bekerja saya akan kembali ke Gemolong,” ujar Wagiyem. Meski tidak mempunyai rumah di Gemolong, masih ada keluarga saudara Wagiyem yang tinggal di sana.

Kini Wagiyem mengaku hanya ingin menikmati hidupnya dengan berjualan bakwan. Dia mengatakan saat ini tidak memiliki keinginan apa pun. “Ya sekarang yang paling penting adalah menjalani hidup apa adanya,” kata Wagiyem.

 Hasil dari berjualan bakwan sebagian digunakan Wagiyem untuk membeli bahan-bahan bakwan. Setelah semua bahan terbeli, sisa hasil dari berjualan bakwan baru digunakan untuk membeli beras. “Saya pulang jualan jika bakwannya sudah habis. Kadang bisa pulang pagi tapi kadang juga siang,” ujarnya di lansir dari solopos.com